11, 12, 20 Juni: Tambahan 3 Hari Cuti Bersama Libur Lebaran

Bulan Ramadhan tinggal satu bulan lagi, kurang dari 30 hari muslim akan menjalankan ibadah puasa. Yang menjadi soal dalam Ramadhan sesungguhnya bukan Ramadhan atau ibadah puasa itu sendiri, melainkan persiapan untuk menyambut Lebaran sesudahnya. Perayaannya membutuhkan persiapan matang, terutama bagi mereka yang harus mudik untuk merayakannya dengan keluarga. Libur Lebaran semua anggota keluarga ditata agar semuanya dapat mudik bersama. Namun, jika kamu salah satu yang sudah merencanakannya jauh-jauh hari, mungkin kamu akan kecewa dengan keputusan pemerintah yang ditetapkan kemarin tanggal 18 April 2018, yakni penambahan cuti bersama libur lebaran sebanyak 3 hari.

11, 12, dan 20 Juni

Jika tahun 2017 lalu cuti bersama hanya 4 hari, tahun 2018 ini jumlahnya jauh lebih banyak, yakni 7 hari. Awalnya sama seperti tahun lalu, Lebaran tahun ini seharusnya hanya mempunyai cuti bersama sebanyak 4 hari, namun pemerintah merevisi kebijakannya dengan menambahkan 3 hari dalam 4 hari tersebut.

Cuti Bersama Libur Lebaran sebelum Direvisi Pemerintah

Cuti Bersama Libur Lebaran sebelum Direvisi Pemerintah

Libur Lebaran jatuh pada tanggal 15 dan 16 Juni, sedangkan 4 hari cuti bersama jatuh sebelum dan sesudah tanggal tersebut, yakni tanggal 13-14 Juni dan 18-19 Juni. Tambahan 3 hari cuti bersama Lebaran kemudian ditetapkan pada tanggal 11-12 Juni dan 20 Juni. Dengan kata lain, total cuti bersama libur Lebaran 2018 menjadi 7 hari. Dengan kata lain, libur lebaran bisa kamu nikmati satu minggu lebih, dari tanggal 11 hingga 20 Juni.

Mengurangi Jatah Cuti

Tambahan liburan sayangnya tak selamanya menguntungkan, apalagi jika kamu bukan anak sekolah atau Pegawai Negeri Sipil. Dilansir secara ambigu oleh Tempo, cuti bersama Lebaran ini “tidak memotong jatah cuti karyawan”. Tempo tidak menambahkan siapa karyawan yang mereka maksud. Untuk karyawan perusahaan swasta tentunya cuti bersama yang diperpanjang pemerintah ini akan memotong jatah cuti tahunan mereka. Berbeda dengan PNS yang dijamin oleh Keputusan Presiden bahwa cuti bersama tersebut tidak akan memotong jatah cuti mereka dalam setahun.

Tak heran jika tambahan cuti bersama ini menuai komplain dari warganet. Seperti yang diluapkan oleh pengguna media sosial Twitter @JessicaaaaNg, bahwa jatah cuti yang berkurang akan merugikan mereka yang beragama lain. Tentunya orang-orang yang memeluk agama lain juga membutuhkan cuti untuk merayakan hari rayanya masing-masing dengan keluarga. Namun jika jatah cutinya telah berkurang, imbasnya gaji yang akan dipotong.

Berbeda dengan @JessicaaaaNg, pengguna Twitter @wie_cantik mengeluhkan tiket kereta yang terlanjut dibeli. Karena tambahan cuti bersama, maka tiket kereta harus dijadwalkan ulang dengan resiko bahwa semua tanggal dengan jadwal yang dinginkan telah terjual habis.

Penambahan hari cuti bersama ini diakui oleh Menteri Perhubungan untuk memperluas pilihan mudik masyarakat. Dengan begitu, lalu lintas sebelum Lebaran tidak akan menumpuk dan kepadatan angkutan umum seperti pesawat dan kereta pun akan terurai.

Menurut Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan sendiri, cuti bersama ini diharap bisa menambah waktu agar masyarakat dapat bersilaturahmi dengan keluarganya di luar kota.

Cuti Bertambah Menguntungkan?

Tambahan cuti bersama Lebaran disesalkan oleh banyak pihak, karena jumlah jatah cuti berkurang lebih dari setengahnya. Memang kebijakan ini dibuat agar arus mudik 2 hari sebelum Lebaran bisa terurai menjadi 4 hari. Namun, jika dilihat kembali, berkurangnya jatah cuti juga merugikan. Hal ini karena masih ada 6 bulan tersisa setelah Lebaran. Dalam masa itu, jatah cuti pasti diperlukan. Entah untuk merayakan hari rayanya masing-masing atau keperluan lain seperti liburan.

Menurut pendapatmu, bagaimana kebijakan bertambahnya cuti bersama libur Lebaran ini? Lebih merugikan atau menguntungkan?

Leave a Reply