Mulai dari Ayam Jago Mangkok Bakso hingga Lele Goreng, Bentuk Fashion Kearifan Lokal Indonesia

Tak bisa dipungkiri lagi, kita sebagai generasi milenial gemar berbelanja. Konteks belanja disini tak semata dalam bentuk fisik, namun bentuk konsumsi barang maupun jasa seperti pakaian hingga langganan layanan Netflix. Namun, belanja pakaian masih menjadi peringkat nomer satu bentuk konsumerisme generasi milenial.

Kultur Suburban dalam Ragam Fashion Lokal

Apalagi dengan merambahnya perusahaan retail pakaian seperti Zara, Pull And Bear, dan H&M yang hadir di mall tempat dimana kamu nongkrong. Model dan rancangan pakaian yang serba mirip menjadi incaran generasi milenial untuk mengikuti tren yang sedang in. Namun, tak hanya pakaian dari merek fast fashion yang tokonya selalu ada di mall tersebut, sumber tren generasi milenial Indonesia juga berasal dari line clothing lokal. Berbagai line clothing lokal ini banyak yang mengadaptasi kearifan lokal. Kultur suburban yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari mampu diaplikasikan dalam item fashion yang unik dan trendy.

At @kamengski_stuff

A post shared by ArtClub/Product/Service/Studio (@kamengski) on

Salah satu bentuk fashion kearifan lokal paling populer adalah penggunaan logo ayam seperti yang dapat ditemukan dalam mangkok bakso. Logo ayam ini sudah melekat dalam kehidupan kita sehari-hari, mudah ditemui dan identik dengan mangkok makan abang bakso, mie ayam, es campur, hingga berbagai jajanan kaki lima lainnya. Pengaplikasian logo ayam jago beragam. Ada yang menggunakannya dalam bentuk graphic t-shirt, kaos kaki, fanny pack atau yang lebih dikenal di Indonesia dengan sebutan waist bag, hingga topi.

Tak sebatas ayam jago dalam mangkok bakso, bentuk fashion kearifan lokal lainnya yang paling sering digunakan oleh line clothing lokal adalah motif termos jadul yang disusul dengan kaleng besi kerupuk. Meskipun begitu, keduanya masih belum mengalahkan kepopuleran logo mangkok ayam jago.

Kamengski, Line Clothing dengan Kearifan Lokal

Salah satu brand lokal pioneer penggabungan kultur luar dan kultur lokal adalah Kamengski. Dengan prinsip in fun we trust, Kamengski membuat produk fashion suburban parodi, mempelesetkan brand ternama dengan kultur suburban lokal. Contohnya saja t-shirt brand Supreme yang dipelesetkan menjadi Supermie, Trasher menjadi Therashi, dan Anti Social Social Club menjadi Anti Sayang Sayang Club. Disamping produk parodi, Kamengski juga menjual berbagai produk inovasi kreatif lainnya, seperti jaket bomber dengan logo lele goreng yang sering dijumpai di spanduk warung pinggir jalan.

Dukung Industri Fashion dalam Negeri

Yaudah gini aja yak, gimana gimana

A post shared by ArtClub/Product/Service/Studio (@kamengski) on

Memang tren fashion di Indonesia tidak akan pernah terlepas dari pengaruh tren fashion dunia. Berbagai line clothing internasional maupun lokal, ikut terpengaruh oleh tren fashion yang dimulai dari merek high fashion seperti Gucci dan Channel. Model yang mereka keluarkan selalu diikuti dan “ditiru” oleh brand lain. Dengan mengadaptasi item kearifan lokal, setidaknya kita masih memiliki identitas sendiri di dalamnya, melalui ayam jago di mangkok bakso dan lele goreng. Selain itu, dengan memilih line clothing lokal, kamu juga bisa mendukung industri garment dalam negeri: pengrajin pakaian hingga desainer muda Indonesia.

Leave a Reply