MINISO: Brand Jepang tapi Bukan dari Jepang

Sepanjang tahun 2017 kamu yang sering jalan-jalan di mall pasti sudah familiar dengan brand retailer MINISO. Menyediakan produk sehari-hari dengan desain simple aesthetic dan harga ciamik, MINISO semakin populer, khususnya diantara kaum hawa. Salah satu alasan kenapa brand satu ini begitu terkenal adalah vibe yang diusung. Produk dan layout toko memberikan kesan bahwa MINISO menyediakan produk yang berasal dari negeri sakura. Ya, kamu nggak salah baca. MINISO bukan dari Jepang, melainkan dari Cina.

Mengusung Jepang sebagai Strategi

Menggunakan segala aspek “berbau” Jepang sebagai strategi MINISO memang diakui oleh pihak manajemen brand ini sebagai strategi pemasaran semata. Saat ditanya mengapa kalimat penjelasan dalam bahasa Jepang yang tertera pada produk tidak sesuai dengan tata bahasa, pihak manajemen mengatakan bahwa mereka memang hanya menggunakan aplikasi penerjemahan Baidu.

Layout Toko Miniso yang Sama dengan Brand Jepang Muji

Layout Toko Miniso yang Sama dengan Brand Jepang Muji. Sumber: en.rocketnews24.com

Menerapkan image Jepang dilakukan karena warga Cina sendiri lebih mempercayai dan memilih untuk menggunakan produk yang berasal dari Jepang dibandingkan dari negaranya. Produk buatan Cina memang sering diasosiasikan dengan hal-hal negatif seperti KW/non-ori, kualitas rendah, dan harga murah. MINISO mencari cara untuk menembus asosiasi tersebut. Namun, bukan dengan cara “jujur”, brand Cina ini secara terang-terangan menjiplak beberapa brand terkenal Jepang: UNIQLO, Muji, dan Daiso.

Logo MINISO yang Mirip dengan Logo UNIQLO

Logo MINISO yang Mirip dengan Logo UNIQLO. Sumber: uniqlo.com

Dapat kamu lihat sendiri logo MINISO mempunyai kemiripan dengan logo UNIQLO. Layout tokonya pun serupa dengan UNIQLO dan Muji. Konsep dan harga barang yang ditawarkan juga meniru toko retail serba 100yen Daiso.

Chief Designer (kiri) dan CEO (kanan) MINISO

Chief Designer (kiri) dan CEO (kanan) MINISO. Sumber: straitstimes.com

Diawal-awal tahun didirikan, MINISO mengaku bahwa perusahaannya berpusat di Jepang yang dikepalai oleh CEO yang merupakan orang Jepang pula. Nama Junya Miyake diakui sebagai desainer Jepang yang menduduki kursi CEO. Lambat laun terbongkar bahwa kantor pusat yang diakui ada di Tokyo ternyata tidak ada. CEOnya pun ternyata adalah seorang pengusaha muda Cina yang bernama Ye Guo Fu.

Meniru dan Memakai Desain Tanpa Ijin

Tak sampai disitu saja, terdapat pula artis yang karya desainnya dipakai oleh MINISO dibeberapa produknya tanpa ijin, seperti case ponsel untuk iPhone. Gambar beruang kutub seperti yang tertera pada gambar berikut adalah beruang Bac Bac karya Darylhochi. Mungkin kamu lebih familiar dengan beruang tersebut sebagai stiker aplikasi chat LINE yang diberi judul Bac Bac’s Diary.

Jika beruang Bac Bac digunakan secara terang-terangan, produk plushie berikut sedikit dirubah desainnya. Plushie yang ditawarkan MINISO ini sangat mirip dengan karakter kucing bernama Pusheen.

Sama halnya dengan plushie berikut yang meniru konsep produk Jepang Premium Nemu Nemu.

Disamping temuan tersebut, MINISO yang sudah tumbuh besar sebagai brand retailer dunia sudah mulai berkolaborasi dengan “cara yang benar”. Kolaborasi yang diusung adalah kolaborasi dengan seri kartun Cartoon Network berjudul We Bare Bears. Tersedia berbagai produk MINISO yang mengusung tema We Bare Bears, seperti earphone, totebag, plushie, dan case ponsel.

Murah memang. Produknya pun berkualitas sesuai dengan harga dan desain chic yang diusung. Cukup dengan dua faktor tersebut, tak heran jika konsumen Indonesia tidak berpikir dua kali untuk berbelanja di MINISO. Apakah kamu salah satunya? Apa pendapatmu setelah mengetahui background MINISO yang kurang begitu baik ini?

Leave a Reply