Apakah Pecinta Makanan Pedas Memang Terlahir Suka Pedas?

Kuliner Indonesia memang terkenal dengan makanan pedas, terutama Jawa Timur. Namun, tingkat kepedasan tersebut terkadang dianggap terlalu berlebihan bagi turis-turis asing. Padahal, menurut kita sendiri, pedas makanan tersebut malah tidak seberapa. Nah, pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa beberapa orang suka pedas sedangkan lainnya benar-benar ogah? Ada yang tak puas makan jika level pedas makanan tidak bisa sampai membuatnya keluar keringat sekaligus ingus. Ada pula yang sambal pedas kemasan sachet sudah terlalu pedas baginya. Padahal kalo dipikir-pikir lagi pedas itu menyiksa, di lidah maupun perut. Jadi apa sih yang membedakan makanan pedas di lidah yang suka pedas dan tidak?

Panas Makanan Pedas hanyalah “Persepsi”

Cabe bisa jadi sangat pedas dan menyiksa untuk mereka yang membenci makanan pedas. Namun menurut ahli makanan pedas koki Bil Phillips, siksaan pedas tersebut hanyalah “perasaan” saja. Dengan kata lain, pedas itu hanya dirasakan oleh otak. Lidah tentunya tidak terbakar dalam artian sesungguhnya. Makanan pedas tidak akan membahayakan secara fisik terhadap sistem pencernaan.

Mie Setan

Mie Setan. Sumber: foody.id

Kandungan capsaicin pada makanan pedas merangsang reseptor sakit dalam lidah sehingga menaikkan sensasi temperatur pada lidah. Sama halnya ketika mengkonsumsi daun mint yang memberikan sensasi dingin dalam mulut. Bukannya dingin sungguhan, tapi daun mint merangsang reseptor lidah sehingga merasakan sensasi dingin.

Terlahir Suka Pedas?

Pecinta kuliner pedas tidak terlahir suka pedas. Namun, secara perlahan “imun” terhadap pedas karena capsaicin dan kandungan molekul makanan pedas lain dapat menumpulkan neurotransmitter yang bertugas untuk mengirimkan sinyak rasa sakit ke otak.

Oleh karena itu, tak heran jika orang-orang dari beberapa negara seperti Indonesia, Meksiko, dan India mempunyai toleransi tinggi terhadap pedas. Mereka sudah mengkonsumsinya sejak kecil karena makanan pedas sudah termasuk dalam budaya kuliner negara dan daerah.

Ayam Geprek Bensu

Ayam Geprek Bensu. Sumber: makassarkuliner.com

Pernyataan tersebut dapat dirasakan kebenarannya oleh salah satu admin Daily Wuz. Dulunya tak begitu kebal dengan apapun yang terasa pedas, namun seiring dengan berjalannya waktu, level pedas yang dulu dianggap terlalu kini sudah terasa tak begitu seberapa…

Kepribadian yang Suka Tantangan

Penelitian pada tahun 80an membuktikan bahwa mereka yang menyukai tantangan (thrill-seekers) lebih cenderung dapat menikmati makanan pedas. Sama halnya ketika saat menaiki roller coaster. Ada rasa takut namun juga terdapat sensasi yang bisa dirasakan. Pada akhirnya kamu tau bahwa makan makanan pedas akan baik-baik saja.

Tahan Pedas Bisa Dilatih

Bisa dilihat dari tren kuliner sekarang bahwa pedas sudah menjadi primadona. Berbagai varian makanan mengunggulkan level-level pedas. Tiap-tiap restoran dan kedai berlomba-lomba untuk dapat menyediakan makanan terpedas untuk lidah manusia. Lihat saja Ayam Geprek Bensu, Indomie Abang Adek, hingga Richeese Fire Wings. Semuanya menyediakan berbagai tahapan level pedas untuk mengakomodasi tingkat tolerasi lidah para pecinta kuliner pedas.

Richeese Fire Wings

Richeese Fire Wings. Sumber: supermommymums.wordpress.com

Jika kamu merasa “tertinggal” tren kuliner pedas tersebut hanya karena tak betah pedas, tenang saja. Toleransi pedas bisa dilatih kok. Kamu bisa mulai menjajal makanan dengan tingkat kepedasan paling rendah. Tak usah buru-buru. Latih lidahmu secara perlahan. Seiring dengan berjalannya waktu, kamu pun akan mulai lebih tolerir dengan rasa “sakit dan panas” karena makanan pedas. Meskipun kamu tidak akan bisa menikmati makanan terpedas seperti ayam geprek level 10, setidaknya kamu bisa tahan makan tahu bulat pakai cabe tanpa harus buru-buru meneguk air.

Leave a Reply